4 Februari 2019
03.01 WIB Kosan Paseban Timur Gg. 13 No.
222D
Ingin coba menuliskan apa yang telah aku amati selama ini, mungkin aku
awali dari kisahku. Menjadi panitia yang mengadakan kajian tidaklah mudah di
sela-sela kesibukan perkoasan seperti saat ini. Bukannya berat dalam hal pikiran atau tenaga, tetapi berat dalam waktu. Banyak sekali rintangan yang menghadang untuk bisa mengurus kajian pada waktu yang telah ditentukan. Terkadang ada jadwal diskusi lah, kuliah resched lah, praktikum belum kelar lah, dan banyak lagi lainnya. Namun, waktu gak peduli, waktu akan terus saja berdetak dan
meninggalkanmu. Mau gak mau harus ada yang dikorbankan. Pilihannya tentu akademis didahulukan. Tidak berani juga meninggalkan forum untuk mengurus kajian. Belum lagi, ditambah tantangan dalam mengadakan kajian, seperti peserta yang hadir sedikit atau yang
semakin lama semakin sedikit dikarenakan ada kegiatan masing-masing.
Tidak sekali dua kali, tetapi seringkali saya harus kehilangan waktu untuk membantu kajian. Walaupun berkali-kali
kesempatan tersebut terlewat, tetap tekad dan doa selalu
dilafalkan dalam hati agar Allah permudah terus untuk mengikuti kajian dalam kesempatan-kesempatan selanjutnya. Dari malam sebelum kajian
tersebut dilaksanakan, sudah diniatkan dan berdoa agar besok dilancarkan serta agar pada waktunya
kajian tidak ada kegiatan lain yang
harus dijalani, sehingga bisa
membantu maksimal dalam kepanitiaan kajian.
Qadarallah, saat ini sudah terbiasa untuk menguatkan niat, doa, dan memprioritaskan apa yang harusnya diprioritaskan. Sebenarnya, pesannya itu adalah "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi?" (Q.S Al-ankabut :2)
Banyak yang di sekitaran kita berhenti di tengah jalan, atau berhenti sebelum mulai. Seperti yang saya tahu atau alami, dalam melakukan amal yang rutin yang sudah direncanakan dan diniatkan itu behhhh cobaannya berattttt banget. Ada saja yang menghalangi sampai akhirnya tidak jadi melakukan atau melanjutkan. Nah... itu tuh sebenarnya kita lagi diuji. Allah ingin lihat sebesar apa kita berjuang. Kira-kira sekarang udah engeh belum sama kejadian apa saja yang terjadi sebelumnya? Iya, menurut analisa saya itu tuh ujian yang sedang dihadapi, disitulah justru seharusnya kita semakin kuat dan bisa kuat melawan badai untuk buktikan ke Allah bahwa kita bisa. Saya sendiri jauh dari kata “kuat melawan badai”. Tentu saya juga sering sekali yang niatnya runtuh saat berjuang atau bahkan sebelum berjuang huhuhuhu.
Contoh di atas hanyalah satu kasus dari sekian banyak kejadian yang bisa kita alami. Bagaimana tentang amalan yang ibadah yang lain,
seperti puasa sunnah, sholat dhuha, sholat tahajud, atau bersedekah? Saya pun masih pada tahap memulai dan kerap kali tidak istiqomah-istiqomah, hiks. Saya menulis seperti ini juga untuk menasihati
diri sendiri :(
Ini tulisan sombong apa gimana sih? Astagfirullah. Sungguh dari lubuk hati yang paling dalam, tidak pernah terbesit sedikit pun untuk menceritakan kelebihan yang saya punya atau apa-apa yang saya alami, kecuali untuk berbagi kebaikan dan berbagi pembelajaran hidup terhadap saudara semuslim. Semoga Allah mengampuni saya atas segala dosa yang sengaja maupun tidak sengaja. Aamiin ya Rabb.
Satu lagi pesan bagi para aktivis dakwah dan terutama
SAYA yaitu bahwa berjuang dijalan Allah lebih nikmat dari emas dan perak tetapi lebih berat daripada cobaan harta. Bergerak di jalan dakwah sangatlah
menggiurkan dan bisa melalaikan orang dari bertakwa pada Allah, bukan lagi
akhirat orientasi namun nafsu dunia yang menguasai. Itu menjadi tantangan
kepada aktivis dakwah, jangan sampai lalai dengan kenikmatan dunia yang bisa
didapat dari dakwah zaman sekarang. Murnikan niat hanya untuk Allah, bukan
tingginya panggung atau popularitas. Satu lagi, saya sendiri juga menyadari,
ketika harus menjadi panitia malah tidak fokus dengan materi yang disampaikan
pembicara. Terkadang iri dengan yang lain bisa menikmati kajian dengan tenang
dan khusyuk. Untuk hal ini, penting banget aktivis
dakwah memperbanyak khasanah keilmuannya, belajar lebih lagi dibanding yang
lain, dan banyak ikut kajian lebih lagi dibanding yang lain.
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada
orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS.
Fushshilat: 33)
Semangat Fenti. Bismillah. Semangat berubah dan memperbaiki diri. Ihdinassirotol mustakim, "Tunjukiku jalan yang lurus ya Allah". Tegur aku jika hatiku untuk nafsu duniaku dan bukan untuk-Mu. Aaamiin ya rabbal'alamin.

No comments:
Post a Comment
AFbm12 Production