24 Oktober 2018 15.00
15.30 Ruang Koas Lt 7 RSCM
Saat ini aku sedang rehat sejenak.
Rehat dari memikirkan apa
diagnosis pasien ini. Rasanya laci-laci memori di otak sudah diobrak-abrik untuk mencari jawabannya. Aku jadi ingat kejadian seminggu
yang lalu dimana saat itu aku sedang rotasi di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
BERAT. Ya, mau bilang itu untuk mendeskripsikan rotasi ini. Dari pagi sampai sore kami dituntut mengerahkan
seluruh tenaga dan pikiran untuk pasien (Insya Allah untuk pasien dan untuk Pak Abbas yang menunggu status yang sudah terisi).
Belum lagi kalau dapat jaga
malem, wah, 32 jam full
deh kami harus berada di IGD. Istirahat hanya untuk makan dan sholat. Itu pun kalau kamu sedang
tidak berhalangan sholat (bagi wanita). Kalau sedang berhalangan sholat? Lain lagi ceritanya. "Ah, fen, aku dulu yang istirahat. Kamu nanti aja, kan kita gak boleh nunda waktu sholat,"
ketus salah seorang temanku. Kalau sudah begitu, mengalah pilihan satu-satunya.
Saat tiba saatnya giliran
aku yang istirahat, “eh, dek coba kamu kerjain ini deh... Eh, dek ambilkan resep juga ya. Ini kan kita habis ada pasien arrest (serangan jantung), jangan pergi dulu ya, dek. Pantau disini aja.” OK FINE, padahal saya belum
istirahat dan makan. Intinya,
rotasi IGD itu sesuatu ya.
Tetapi kalau dipikir-pikir, capeknya jaga IGD gak ada apa-apanya dibanding orang lain di luar sana yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengais rezeki, yang mungkin hanya bisa dipakai untuk makan sehari. Kerjanya pun dibawah terik matahari terus-terusan. Istrinya mungkin belum tentu mendapat baju yang layak. Anaknya belum tentu mendapat pendidikan yang mencukupi. Sementara aku hanya dituntut untuk belajar baik-baik. Tidak harus kepanasan, mendapat ilmu, mendapat pahala kalau ikhlas, dna kelak ketika sudah menjadi dokter akan mendapatkan gaji. Masa banyak ngeluhnya? Istigfar, ah!
Eh, jadi ngalor ngidul. Sebenarnya, aku mau ceritain tentang kejadian ketika berada di rotasi IGD seminggu yang lalu. Ini merupakan pengalaman yang mungkin tidak akan aku lupakan. Ketika itu, datang laki-laki, sebut saja Pak Fulan, berusia 64 tahun. Ia mengalami sesak yang semakin memberat. Kondisinya sudah semakin memburuk. Monitor yang terpampang di hadapan kami tiba-tiba berbunyi menandakan kondisi gawat darurat dan ternyata menunjukkan adanya henti jantung. Kami bergantian melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru), seperti tindakan yang sering muncul di tv-tv itu), dipandu satu dokter PPDS (yang sedang pendidikan spesialis). Dokter tersebut mengintruksikan agar satu orang bagging, satu lagi menyuntikkan obat, dan sisanya bergantian RJP. Sepuluh menit berlalu, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda sadar. “Lanjut, dek. Jangan berhenti” kata dokter PPDS. Saat itu menjadi kali pertama aku melakukan RJP pada pasien selama stase IPD. RJP-nya pun disaksikan oleh keluarga pasien yang sudah menyerahkan keputusan yang terbaik kepada dokter yang bertugas. Singkat kejadian, teraba detak jantung pak Fulan yang sebelumnya sudah tidak berdetak. Rasa syukur terucap dalam hati. Keluarga Pak Fulan mulai menyeka air matanya walaupun masih terlihat raut wajah khawatir.
Empat jam selanjutnya, pak Fulan terus-terusan mengalami serangan henti jantung,
dan kami terus-terusan bergantian bertugas RJP. Disini aku mulai bingung dan
bertanya dalam hati, “kapan kami berhenti?” Kondisi badannya semakin tidak baik. Dadanya memar menunjukkan tanda-tanda cedera karena terlalu banyak ditekan. Kami tetap
melakukan RJP sesuai
panduan yaitu harus dilakukan selama 30 menit. Selama
itu, pasien menunjukkan detak
jantung, lalu berhenti lagi, menunjukkan detak jantung, dan berhenti lagi. Obat-obatan
pun tidak terhitung sudah berapa banyak yang dimasukkan. Pertanyaan yang terus berkecimpung di
benakku saat itu adalah kapan kami berhenti berusaha? Karena mungkin saja Pak Fulan sudah diambil Yang Maha Kuasa. Kapan
kami berhenti?
Setelahnya aku bertanya pada dokter Aisyah, murobbi sekaligus panutanku dalam dunia dakwah. Ternyata, dalam islam semua di kembalikan kepada keputusan yang ahli. Jika sudah dinyatakan meninggal oleh ahlinya, berarti sudah meninggal. Sebagai koas yang belum tau apa-apa ini, kita bisa mengikuti instruksi dokter yang ada saat itu dalam mengusahakan yang terbaik. Selain itu, saat itu kita juga bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana menyampaikan informasi dan edukasi kepada keluarga dengan sebaik mungkin.
Tetapi kalau dipikir-pikir, capeknya jaga IGD gak ada apa-apanya dibanding orang lain di luar sana yang mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengais rezeki, yang mungkin hanya bisa dipakai untuk makan sehari. Kerjanya pun dibawah terik matahari terus-terusan. Istrinya mungkin belum tentu mendapat baju yang layak. Anaknya belum tentu mendapat pendidikan yang mencukupi. Sementara aku hanya dituntut untuk belajar baik-baik. Tidak harus kepanasan, mendapat ilmu, mendapat pahala kalau ikhlas, dna kelak ketika sudah menjadi dokter akan mendapatkan gaji. Masa banyak ngeluhnya? Istigfar, ah!
Eh, jadi ngalor ngidul. Sebenarnya, aku mau ceritain tentang kejadian ketika berada di rotasi IGD seminggu yang lalu. Ini merupakan pengalaman yang mungkin tidak akan aku lupakan. Ketika itu, datang laki-laki, sebut saja Pak Fulan, berusia 64 tahun. Ia mengalami sesak yang semakin memberat. Kondisinya sudah semakin memburuk. Monitor yang terpampang di hadapan kami tiba-tiba berbunyi menandakan kondisi gawat darurat dan ternyata menunjukkan adanya henti jantung. Kami bergantian melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru), seperti tindakan yang sering muncul di tv-tv itu), dipandu satu dokter PPDS (yang sedang pendidikan spesialis). Dokter tersebut mengintruksikan agar satu orang bagging, satu lagi menyuntikkan obat, dan sisanya bergantian RJP. Sepuluh menit berlalu, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda sadar. “Lanjut, dek. Jangan berhenti” kata dokter PPDS. Saat itu menjadi kali pertama aku melakukan RJP pada pasien selama stase IPD. RJP-nya pun disaksikan oleh keluarga pasien yang sudah menyerahkan keputusan yang terbaik kepada dokter yang bertugas. Singkat kejadian, teraba detak jantung pak Fulan yang sebelumnya sudah tidak berdetak. Rasa syukur terucap dalam hati. Keluarga Pak Fulan mulai menyeka air matanya walaupun masih terlihat raut wajah khawatir.
Setelahnya aku bertanya pada dokter Aisyah, murobbi sekaligus panutanku dalam dunia dakwah. Ternyata, dalam islam semua di kembalikan kepada keputusan yang ahli. Jika sudah dinyatakan meninggal oleh ahlinya, berarti sudah meninggal. Sebagai koas yang belum tau apa-apa ini, kita bisa mengikuti instruksi dokter yang ada saat itu dalam mengusahakan yang terbaik. Selain itu, saat itu kita juga bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana menyampaikan informasi dan edukasi kepada keluarga dengan sebaik mungkin.
Memang manusia tugasnya untuk usaha, mencoba, dan melakukan yang terbaik. Tetapi penentu paling agung ialah Allah SWT. Jika Allah sudah memutuskan, tugas manusia hanya bertawakal.

No comments:
Post a Comment
AFbm12 Production