25 Oktober 2018
21.23 Kosan Kak Ika
21.23 Kosan Kak Ika
Geriatri (lansia) menjadi rotasi pertamaku di stase
Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Katanya,
sih, komprehensif,
detil, dan
menyenangkan. Setelah aku melewatinya, ternyata sangat
menyenangkan. Ditambah lagi, banyak hikmah kehidupan yang bisa diambil. Seminggu di rotasi geriatri ini, aku mem-follow
up seorang nenek berusia 73 tahun. Dia datang ke rumah sakit karena keluhan keluar darah yang cukup banyak dari
anusnya. Pertama kali aku
lihat si nenek, ia sedang tidur dengan muka cerah. Awalnya, aku ragu untuk menyapa
karena ini merupakan kali
pertama bertemu dengan pasien
geriatri. Bismillah,
tarik napas. "Selamat siang, Nek” sapaku akhirnya. "Siang, Bu Dokter" jawabnya sambil berusaha duduk dari posisi
tidurnya. Kulit wajahnya yang tak kencang lagi membentuk senyuman
sumringah yang manis sekali untuk menyambutku. Aku sodorkan tanganku untuk
menjabat tangannya sambil memperkenalkan
diri. Pertemuan kami kala itu memang yang pertama
kali, tetapi entah mengapa rasanya
seperti sudah berkali-kali bertemu dan berkomunikasi dengan nenek. Kami sama-sama berasal
dari tanah Batak, Sumatera Utara. Aku panggil ia “Opung” dan ia memanggilku "Cucuku".
Opung dengan jiwa pendidiknya yang telah berpuluh
tahun disandang ternyata memberikanku banyak pelajaran. Dari mulai mengurus diri sampai mengurus
keluarga. Cantik, lincah, bersemangat, ramah, lucu, dan... ah masih banyak lagi yang membuat aku
selalu ingin bertemu dengannya setiap hari. Padahal biasanya aku malas sekali untuk melakukan follow up dan mengganggu
ketenangan pasien. Namun,
kali ini aku tidak sungkan untuk mengganggu Opung. Bahkan, aku menanti-nanti waktu tersebut sambil
membayangkan cerita apalagi yang akan Opung sampaikan padaku.
Aku temukan diriku dan Opung
berbeda dalam satu hal. Ya,
Opung merupakan aktivis
gereja, sedangkan aku aktivis masjid, eh mushola, hehehe. Dengan perbedaan itu, aku sedih. Ingin rasanya membuat Opung satu jalan
denganku. Tetapi,
perbedaan itu tidak
menghambat kami untuk menjalin persaudaraan sesama manusia. Aku banyak
mengambil pelajaran hidup dari Opung dan semoga Opung juga bisa melihat sisi
baik dariku. Dari semut yang begitu kecil saja kita dapat mengambil pelajaran untuk saling bahu membahu. Apalagi dari manusia, dengan segala aspek
kehidupannya. Akan terdapat banyak sekali hikmah serta manfaat yang akan kita dapatkan dan perbedaan
antara manusia tidak menjadi halangan untuk itu.
Perbedaan juga tidak menjadi
hambatan untuk memberi manfaat kepada sesama. Bahkan, agama ini mengajarkanku untuk
selalu berbuat kebaikan
dimana saja, kapan saja, dan pada siapa saja. Ah, aku
jadi teringat ketika dokter Aisyah bercerita tentang seorang temannya yang mu'alaf, sebut aja
namanya Fulanah. Setiap
hari, ia menolong seorang nenek yang rumahnya berdekatan dengannya. Fulanah membawa nenek itu berobat, mengantarkannya, dan berperilaku sangat penyayang
kepadanya. Nenek itu sampai menodong dan bertanya, "mengapa kamu sangat baik dengan
saya, kamu mau membuat saya masuk islam ya?" Si Fulanah pun menjawab, "nenek, justru karena saya islam, saya baik kepada nenek."
Ahh, Opung, aku sungguh merindukanmu saat
ini. Terus rajin senam obesitasnya, ya, Pung. Dijaga makannya, Pung, jangan rendang
terus. Kan Opung yang
bilang agar aku jaga makan karena kalau aku sakit nanti gak bisa ngobatin pasien yang sakit,
gak bisa ngobatin Opung. Jadi kita
sama-sama jaga kesehatan ya, Pung. Cepat sembuh dan sehat selalu buat Opung :)

No comments:
Post a Comment
AFbm12 Production