Rumah Impian

Dirimu esok ialah mimpimu hari ini

Coretan Afbem

Post Page Advertisement [Top]

15 Oktober 2018
22.37 Kosan (Jl. Paseban Gg. 13 No. 222D)

Saat itu, rasanya badan masih capek dan lemas setelah jaga malam. Pulang-pulang sudah pukul 11.00 siang. Berbalas line, instagram, dan whatsapp, eh, gak kerasa sudah jam 12. "Duh, habis Ashar ada acara khitbah my twin. Gak punya baju warna pink. :(". Karena takut ngecewain sahabat tercinta, aku beli baju, deh. (Ssst, diem-diem ya, jangan sampe my twin tau haha). Oh iya, aku merasa, dengan bertambahnya umur, pengalaman, dan kedewasaan membuat cara berpenampilan seseorang juga berubah. Orang yang gak peduli dengan penampilan sama sekali (yaitu aku), bisa mulai berubah sedikit demi sedikit. Aku berubah bukan untuk mendapatkan pujian dari orang-orang yang memandang. Aku mengubah diri setelah akhirnya menyadari identitas yang sedang aku sandang saat ini. Apa itu? Yakni seorang muslimah dan calon dokter. Gak akan mau, kan, dibilang muslimah itu jelek atau lusuh? Ya, walaupun aku juga masih gitu huhuhu. Insya Allah pelan-pelan berubah. Terus, gak akan enak, kan, kalau dokternya berpenampilan berantakan amburadul di depan pasien? Bisa-bisa pasien sudah gak percaya duluan sama dokternya. Padahal dengan rasa kepercayaan pasien itu, dia akan menceritakan keluhan dan keadaannya dengan nyaman dan terbuka. Bagaimana mereka bisa percaya sama dokter yang penampilannya gak meyakinkan :D. Ehhh, tapi ini bukan inti dari tulisan ini hehe.

Balik lagi ke ceritanya, ya. Saat itu, walaupun capek, tetapi tetap merasa bahagia mengingat bahwa hari itu salah satu sahabatku akan di-tag sama orang lain. Apakah hal ini membahagiakan juga buat kamu, my twin? Harusnya iya hihi. Tak bosan mengarahkan tatapan ini ke wajahmu pada detik-detik menuju saat dimana kau akan dimintai hatinya. Oh, sahabatku, seandainya mulut ini bisa berkata betapa aku mencintaimu karena Allah, ingin rasanya menceritakan semua kebersamaan yang kita lalui selama ini. Tapi, aku tak mampu dan tak cukup waktu untuk mengungkapkannya karena kau sedang diburu dengan rasa gundah dan gelisah. Ah, kau ini, masih menjadi my twin yang belum berubah dalam mengendalikan kecemasannya. Apakah kau masih sesak? Semoga tidak, ya sahabatku. Walaupun aku yakin dalam minggu-minggu belakangan ini, kau pasti sering sesak memikirkan datangnya hari ini dan hari-hari yang akan kau hadapi selanjutnya.

Saat itu, hati ini terlalu egois. Aku menantang dan melawan untuk tidak meneteskan air mata di hadapanmu. Bukan, bukan karena hatiku yang begitu keras. Tetapi karena hatimu yang begitu lembut. Aku takut kau tak sanggup melihat sahabat-sahabatmu menangis. Jadi, biarlah ku tahan saja. Jangan sampai kau menangis di hari bahagia mu. Sepertinya, walau monolog ini belum selesai bersemayam di pikiranku, kau sudah menangis duluan huhuhu. Kenapa, my twin? :'( Kau pasti tidak percaya atas apa yang akan terjadi? Atau, kau terharu di kelilingi banyak sahabatmu yang siap menemanimu? Atau, kau teringat kedua orang tua mu, serta adik dan kakakmu? Atau kau takut belum siap menjadi milik orang lain?

Saat itu, aku memilih untuk tak bertanya dan mengilhami dalam hati saja. Mungkin semua orang sudah tahu jawabannya dan saling mengerti satu sama lain. Kebersamaan kami terbuyarkan ketika mama my twin datang menghampiri kami semua. "Yuk kita turun." Kami diajak turun untuk menjalani prosesi khitbah. Pukul 20.10 tepat si dia mengungkapkan maksud serta isi hatinya. "Walaupun pertemuan kita sangat singkat, tetapi cinta ini sudah bulat" begitu kalimat yang dia sampaikan. Sebuah kejadian yang setiap detiknya tidak akan aku lewatkan sedikit pun. Bukankah ini pernyataan cinta yang kau tunggu, sahabatku? :) Teringat dengan kisah Fatimah yang menanti ungkapan cinta dari Ali, seorang pria yang ia cintai. Bahkan setan pun tak tahu bahwa Ali merupakan seseorang yang Fatimah cintai. Akhirnya Ali pun menyatakan cinta dan maksudnya ke Rasulullah setelah Umar dan Utsman pernah ditolak oleh Fatimah.

Ah, saat itu, akhirnya aku menyerah. Ya, menyerah untuk tak mengagumi kau, sahabatku. Menyerah  dan menyadari kalau memang kita tidak begitu kembar. Kau sungguh luar biasa sedangkan aku bagai remah-remah pohon kapas yang berterbangan. Kau jawab dengan lantang dan yakin pernyataan dia dengan kalimat yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Dari ceramah ustadz, kajian, liqo, novel, koran, e-book kedokteran, maupun fotokopian Mas Nur, belum pernah aku mendengar atau membaca kalimat indah nan tegas ini. "Hm Bismillahirrohmanirrohim dengan memohon Ridho dari yang paling Ririn cintai, Allah SWT. Demi melaksanakan sunnah manusia yang paling Ririn cintai, Muhammad SAW. Dengan memohon restu dari yang Ririn hormati, mamah, mamah, mamah, dan abah. Dengan memohon restu juga dari kakak yang paling baik, Kak Irfan, adik yang paling hebat, Irsyad, seluruh keluarga besar Ririn yang Ririn cintai, serta sahabat-sahabat Ririn yang Ririn sayangi. Insya Allah, Ririn Bersedia."

Saat itu, HP yang aku pakai untuk merekam prosesimu tiba-tiba menjadi blur. Ah, ternyata aku gemetar dan menitikkan air mata. Aku biarkan menetes dan tetap merekam. Aku tidak ingin kehilangan momen itu. Aku dapati isak suara tangis di belakangku. Ya, semua sahabatmu ternyata juga menangis. Kau, yang biasanya paling memiliki kelembutan hati, malam itu justru kau begitu cantik, anggun, dan tangguh untuk tak menangis. :''

Barakallah fikuma, lancar sampai akad dan walimah, my twin, Nisrina.


3 comments:

  1. Tulisannya bagus, mengalir dari kejujuran seorang sahabat

    ReplyDelete
  2. bener kan yg ku katakan. tulisan mu jujur dan mengalir. ada bakat. yuk kolaborasi!!!

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas komentarnya, semoga saya terus bisa menulis dengan lebih baik lagi ya.

    ReplyDelete

AFbm12 Production

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib