Rumah Impian

Dirimu esok ialah mimpimu hari ini

Coretan Afbem

Post Page Advertisement [Top]

28 Februari 2019
22.15 WIB Kosan Paseban Timur Gg 13 No 222D

"Gimana? Kapan jadinya?" ucap temanku dalam suatu grup. "Eh iya, aku bisa kapan aja," sahutku secepat kilat. "Kalau besok, gimana?" tanya anggota grup yang lain. "Oke, coba aku tanya ke kak Coppa" responku memberi kesempatan.

"Gengs, bisa nih, besok ya jadinya." Sebuah kalimat pengambilan keputusan yang selalu dadakan khasku. Terkadang, ini menjadi kelebihanku ketika memutuskan sesuatu dengan cepat sehingga bisa cepat menentukan gerak selanjutnya, tetapi juga sekaligus menjadi kekuranganku karena tidak jarang preferensi pilihan orang lain menjadi tidak didengar.

 "Wul, ini kok muter-muter ya. Kok kita gak sampai-sampai. Jalannya mulai kecil juga jadi gak bisa dilewati mobil." Akhirnya, kita memutuskan untuk turun dari mobil dan berjalan menyusuri alamat yang sudah diberikan. "Pantes ya, kak Coppa ngasih tahu alamatnya detil banget sampai kirim gambar, voice note, dan share location." "Wkwkwk. Bener banget Wul. Aku juga bingung kenapa kak Coppa kok gini banget. Ternyata ini jawabannya. Memang rumahnya susah dicari," responku kepada Wulan.

"Assalamu'alaikum," salam kami di depan rumah tujuan kami, rumah kak Coppa. "Eh, dek, wa'alaikumussalam. Masuk masuk. Maaf ya rumahnya kecil"

Kami ngobrol ringan melepas rindu dengan kakak Supervisor kami selama di Etos. Kurang lebih sebulan yang lalu Kak Coppa baru menikah. Akhirnya diberi kesempatan bisa silaturahmi ke rumah Kak Coppa.

"Apa nih kesibukkan kalian sekarang?" tanya kak Coppa, yang ditemani suaminya, kepada kami. Ketawa, meringis, saling mengejek, saling mem-bully dan saling menuduh (loh) itulah yang kerap kami lakukan dulu. Mungkin yang berbeda saat ini adalah bahan ejekan dan tuduhannya sudah mengarah ke yang lebih "dewasa" (ah masa?) "Wulan nih kak. Dari Lampung sengaja ke Jakarta, nyari gedung." "Andi sekarang jadi supervisor. Masyaallah banget, udah siap lah." Dan banyak lagi kalimat-kalimat yang mengarahkan pada topik pernikahan.

Aku memegang prinsip untuk selalu melihat sisi kebermanfaatan dari apa yang aku kerjakan. Termasuk malam ini. Sudah berangkat jauh dari Salemba jadi harus mengambil pelajaran hidup sebanyak-banyaknya. Setelah berupaya menggiring bahasan pembicaraan ke arah yang aku inginkan, akhirnya kak Coppa dan suami mulai berhikmat (hehehe)

"Walimahan itu ya mau mahal bisa. Mau sedang bisa. Mau sederhana juga bisa. Semua itu kembali ke kita. Aku dan Kak Awwah akhirnya memutuskan untuk mengadakan prosesi pernikahan yang sederhana saja. Tidak banyak mengundang orang. Baju pengantin hanya satu. Tidak ada hiburan. Rangkaian acara yang benar-benar diperlukan saja. Sangat sederhana." Untuk menjalankan hal tersebut tidak ringan. Banyak cobaan, godaan, dan tantangannya. Bagaimana aku meyakinkan pada keluarga dimana aku anak pertama yang menikah di keluarga. Sangat sulit. Qadarallah semua lancar dan keluarga saling ridho," cerita kak Coppa kepada kami.

"Aku sama Kak Awwah sama-sama berpikir bahwa banyak kebutuhan setelah pernikahan. Jadi rasanya kurang bermanfaat jika dihabiskan saat resepsi. Ditambah lagi, dewasa ini, walimahan terlalu mubazir dan banyak membuang-buang sesuatu yang tidak terlalu bermanfaat. Dari situ, kami memutuskan untuk mengadakan acara yang sesederhana mungkin dan mengharapkan berkah dari Allah. Tidak ada campur aduk budaya. Pure sederhana dan islami. To rhe point dan hanya acara-acara inti yang perlu ada."

"Hikmah apa yang didapatkan setelah bertekad membuat resepsi yang sederhana dan mengundang orang yang sangat dekat saja? Berapa kak? Hanya 200 orang ya kalau gak salah?" tanya salah satu temanku.

"Banyak sekali hikmah yang didapat. Kepuasan batin, meminimalisir kemudhorotan, mengajarkan pada keluarga ternyata menikah itu gak perlu sulit dan habiskan duit banyak. Intinya, mengajarkan pada keluarga ternyata metode pernikahan seperti ini itu bisa dan tidak menjadi masalah," jawab Kak Coppa kepada kami.

Intinya, jika kamu memegang suatu prinsip, peganglah erat-erat jika kamu mampu. Regangkanlah tanganmu jika kamu mulai melemah. Tapi jangan pernah lepaskan genggamanmu.

"Aku sama kak Awwah sedang menjalankan apa yang sama-sama kami pegang teguh. Gak sedikit orang yang paham tapi sangat sulit untuk menjalankannya. Bisa karena pengaruh jabatan dan terpandangnya keluarga lah. Karena anak pertama lah. Atau anak laki-laki satu-satunya. Dan lain sebagainya. Nah, itu tidak mudah tapi kami bersama-sama bertekad untuk memulai semuanya dengan keteguhan di jalan-Nya." Kalimat dari kak Coppa tersebut sekaligus mengakhiri silaturahmi kami hari itu.

Hari ini, aku pulang membawa pelajaran yang sangat berharga sekali. Terima kasih kak Coppa dan kak Awwah. Semoga sakinah, mawaddah dan warrahmah dalam berkeluarga. Aamiin ya Rabbal'alamin.


No comments:

Post a Comment

AFbm12 Production

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib