12 Oktober 2018
10.30 Lt 8 Gedung A RSCM
10.30 Lt 8 Gedung A RSCM
Antara kantuk atau menyelesaikan kewajiban sedang beradu di benakku. Status jaga, status follow up selama 4 hari, dan status utama plus lembar CGA (Comprehensive Geriatry Assesment) yang meraung-raung untuk minta diselesaikan. Di satu sisi, kelopak mata sudah bagai tangkai pohon mangga yang dipanjat anak-anak. Awalnya naik 1 anak, lalu bertambah menjadi 2 anak, lalu bertambah jadi 5 anak...... dan tinggal tunggu kapan tangkainya akan rubuh, hahaha, ya gitulah. Kalau kamu jadi aku pilih yg mana, nih? Duh, kok malah nanya, emangnya voting di Instagram.
Tapi ternyata aku gak memilih keduanya, karena tiba-tiba ada malaikat cantik yang ngingetin janjiku untuk nulis haha. Sontak buyar semua pikiran-pikiran soal status dan kantuk, timbul banyak tangkai baru yang siap menopang mataku untuk stay on lagi :D. Jadi aku pilih mana? Ya, pilih untuk nulis. Oke sekarang aku nulis yaaa.
Aku sekarang sedang bertugas di bagian penyakit dalam divisi geriatri (lanjut usia). Kehidupan manusia ini seperti kurva, awalnya dari bawah, lalu naik sampai puncak dan kemudian turun perlahan ke bawah. Umurku saat ini umur yang sedang menuju puncak-puncaknya. Tinggal tunggu saja kapan mulai turun kebawah. :( Ah ntahlah, apa yg udah aku kasih ke orang tua, apa yang udah aku kasih buat keluarga, apa yang udah aku kasih buat agama, pun terjun ke masyarakat juga belum. :(
Gimana ini? Katanya, "tua itu diberi dan mati itu sudah pasti." Bisakah tuanya ditunda dulu? Atau matinya di tunda dulu? Bisakah umurku tetap 22 tahun seperti ini, bisakah ya Allah? Bisakah kulitku tetap kencang? Bisakah kakiku terus kuat? Bisakah usus, jantung, paru, ginjal, dan kesehatanku sama seperti sekarang terus, ya Allah? Bisa kah ya Allah? Huhuhu jawabannya gak bisa. Fisiologi tubuh semakin bertambah usia memang semakin menurun. Kita hanya bisa mengurangi penurunan itu agar tidak terlalu cepat, tetapi kamu tidak pernah bisa mencegahnya. Sampai obat tercanggih di seluruh jagat raya pun kamu tidak bisa mencegahnya. Bagaimana soal kematian? Bisa dicegah kah? Sepertinya ini udah jelas ya, terlebih hal ini, siapa bisa mencegah? Hanya Allah yang tahu.
Siang itu, seorang kakek yang berjalan tertatih-tatih digandeng oleh seorang ibu yang usianya sekitar kepala 5, datang kepada dokter jaga. Sebagai koas yg baik dan tidak neko-neko alias tidak banyak melakukan apa-apa hahaha. Aku menjalani tugas sebagai pengamat yang baik. Ya, mengamati semuanya, termasuk si kakek. Rambutnya berwarna putih, jarang, dan hampir botak. Matanya sayu dengan kelopak mata jatuh menutupi bulu matanya, tangan dan kakinya gemetar, berdirinya tidak seimbang sekaan tertiup angin. "Ibu, kakek kenapa?" tanya dokter jaga kepada ibu yang mengantar si kakek. "Ini dok, kontrol obat." Kemudian dokter jaga melanjutkan bertanya-tanya kepada ibu, sedangkan aku terus memperhatikan kakek. Dia sudah tidak bisa berbicara, pendengarannya lemah sekali, dan sudah tidak bisa menjawab lagi ketika ditanya dan diajak berbicara. "Dek, periksa dek" kata dokter jaga. Tuk, kepala ini seperti ada yang melatuk dari lamunan pengamatanku terhadap kakek. Kakek sudah berusia 80 tahun, sudah pikun dan tidak bisa mengenali banyak hal lagi. Penyakitnya cukup banyak, obat-obatan yg diminum cukup banyak.
Kakek tinggal sendiri. Hanya tetangga yang sesekali menengok keadaannya. Kedua anaknya enggan mengantarkannya ke rumah sakit, sehingga harus diantar oleh orang lain. Jadi, saat ini si kakek sendirian di sisa-sisa harinya? Iya.
Ya Allah :'( Bagaimana bisa seorang anak setega ini? Sontak, ku ingat ibu dan ayahku. Proses penuaan juga sedang menghampiri mereka, tetapi diri ini belum bisa menjaga dan menemani mereka disana. "Apalah arti dunia yang kau genggam, tetapi surga yang bisa kau ambil dari orang tuamu kau abaikan?"
Aku gak sanggup dan takut menyesal :( Aku membayangkan diriku yang tertawa bersama teman-teman dalam hari-hari yang dipeuhi dengan kesibukan dunia. Sedangkan disana, orang tuaku yang butuh anaknya, tetapi ia belum bisa pulang demi membahagiakan orang tuanya. Ya, bagiku perjuanganku saat ini terlihat sebagai membahagiakan orang tua, tetapi apakah itu yang diinginkan mereka? Yakinkah tidak ada hak-hak mereka yang aku lalaikan? Aku gak tau, yang aku tau aku hanya ingin berdoa kepada Allah. Ya Allah, ku lakukan usaha dan perjuangan hidup di dunia untuk membahagiakan kedua orang tuaku dan untuk menggapai ridho-Mu. Jaga aku, jaga kedua orang tuaku, sampai aku bisa kembali kepada mereka. Dulu, ketika kecil aku selalu ada di pangkuan mereka, dipeluk dan dijaga ketika sakit oleh mereka, diberi uang jajan dari jerih payah bekerja, dan belum lagi perjuangan perih dan sakitnya melahirkanku tanpa bantuan dokter. Aku ingin membalikkan semuanya, ya Allah. Beri aku kesempatan membuat ibu dan ayah di pangkuanku, membuat ibu dan ayah di sisiku, membuat mereka sebagai jalan dan hujjahku meraih keridhoan-Mu.
Kabulkan ya Allah, kabulkanlah ya Allah.
"Umur dan hidup manusia ibarat tinta pena, akan habis pada waktunya, lalu dimanakah kau tinggalkan jejak tintanya? Seperti apakah kau tuliskan kehidupanmu? Hanya kau, hati kecilmu, dan Allah yang tahu."
👍👍👍
ReplyDeleteThankyuu
ReplyDelete